CERITA.. Cinta Tanpa Batas



AGEN JUDI TERPERCAYA - Siang ini matahari menampakkan cahayanya sangat terang sekali, begitu menyengat hingga tubuh ini yang tidak memakai jaket, terasa sangat menyengat bahkan membakar sampai kulit paling dalam. Aku tidak tahan dengan sengatan matahari siang itu, karena aku habis melakukan perjalanan Jogja–Solo -perjalanan naik sepeda motor sampai 2 jam- tanpa memakai jaket. Awalnya aku pikir hari ini akan hujan karena musim ini adalah musim penghujan -Januari awal.

Ternyata prediksiku meleset jauh, hingga kini aku merasa siang itu seluruh badan berubah wujud seperti panci gosong nyaris tidak terbentuk wujudnya. Sebelum aku menuju ke tempat tujuan -di rumah Kakekku di daerah jebres, Surakarta. Aku memutuskan untuk mampir dulu di mall untuk menyegarkan tubuh ini yang sudah lelah ini. Aku putuskan untuk berhenti di sebuah mall yang letaknya di jalan slamet ruyadi, Surakarta yaitu Solo Grand Mall. Di sini adalah tempat perbelanjaan yang paling disukai oleh masyarakat solo, karena banyak fasilitas yang disajikan mulai dari game fun, shopping, bioskop banhkan hanya untuk sekedar tempat nongkrong pun ada.

Aku masuk dalam tempat itu, namun siang itu tempat di sana begitu ramai dikunjungi oleh orang–orang. Aku pun mulai penasaran dengan keadaan itu. Aku mulai menyisip masuk ke dalam kerumunan orang–orang. Maklum tubuh ini kurus hingga dengan mudah mampu menyusup masuk tanpa protes banyak orang. Ternyata di sana ada kontes top model solo. Banyak wajah cantik dan tubuh langsing berlenggak lenggok jalan di cat walk. Aku pun mulai menikmati kecantikan para gadis yang memamerkan kecantikan dan kelihaian dalam berjalan.

Mata ini pun tertuju pada 1 wanita yang cantik jelita, hidung mancung, rambut yang lurus natural, wajah manis, mata sipit, dan wajah oriental jawa. Keunikan dari wanita ini dari yang lain adalah ketika ia tersenyum ke luar lesung pipit yang mampu memukau banyak orang yang menatapnya dan mukanya yang manis ini memberikan penonton tidak mampu melupakannya. Bahkan bayang–banyangnya mudah untuk melekat dalam ingatan yang melihatnya.

Tak terasa 2 jam sudah aku melihatnya, hingga di penghujung acara ada sesi tanya jawab. Hati ini masih ingin terus menonton tanpa ingin meninggalkan acara tersebut. Bahkan perut yang masih keroncongan waktu tadi pun kini sudah mulai kenyang dengan sendirinya, entah karena apa aku jadi tidak merasa lapar. Tiba–tiba ada yang memanggilku sangat dekat sekali.

“Doni, kok kamu bisa di sini” tanyanya dengan raut muka curiga. Lelaki putih, tinggi yang masih keturunan cina memanggilku dari samping.

“eh. kamu Thomas, kamu juga di sini” balasku.

“orangtuaku kan memang rumahnya solo, ini orangtuaku ini sebagai event organization acara top model solo di sini, makanya aku di sini” balas Thomas.

“ini aku juga tadinya mau ke rumah Kakekku di solo, tapi mampir dulu di sini, sambil istirahat setelah perjalanan cukup jauh” balasku.

Aku dan Thomas adalah teman sekelas 3 SMA, kita sama–sama masih bersekolah di SMA Pancasila Jogjakarta. SMA Pancasila adalah sekolah elit di Jogjakarta, jadi banyak dari kalangan menengah ke atas yang sekolah di sini. Sekolah ini menggunakan 3 bahasa dalam belajar mengajar -Bahasa Indonesia, Bajasa Jawa, Bahasa Inggris- di sini guru–guru semuanya berkompetensi dalam bidang masing–masing hingga banyak orangtua murid yang memercayakan anaknya bersekolah di sini.

Aku dan Thomas pun duduk bersebelahan sambil mengobrol, dan tak jarang kita tertawa bersama dengan keras. Hingga MC pun bersuara untuk tiba waktunya sesi tanya jawab, wanita cantik tadi yang hampir acara itu mataku selalu menuju ke arahnya, serasa tidak mau lepas dari pandanganku sedetik pun. Aku pun mulai menghentikan ceritaku untuk lebih fokus menonton sesi tanya jawab ini, MC memperkenalkan ternyata dia bernama Vina. Yah. Vina wulandari. Nama yang cukup bagus sesuai dengan wajahnya yang cantik dan menawan. Membuat seluruh mata mudah untuk terpikat dengannya. Bahkan aku saja tidak ingin menutup mataku, dan tak jarang aku mencuri pandangan dengan penuh harap dia mau memandangku. Aku pun meminta Thomas yang sedang membawa kamera DSLR untuk memotretnya dengan bagus agar aku mampu memiliki foto wajah itu.

Pengumunan pemenang pun segera akan diumumkan. Hatiku pun ikut berdetak kencang mengikuti alunan musik yang keras itu. Akhirnya Vina tidak masuk juara terbaik, namun dia mendapatkan juara favorit. Yah, juara favorit mungkin lebih dari pantas. Karena ia mampu menjadi favorit penonton siang itu dengan keindahannya. Nampak berbeda sepertinya dengan tanya jawab yang lainnya, dia menggunakan tangannya untuk berbiacara dengan bantuan penerjemah. Ini baru pertama kali aku temui. Bahasa apa yang dia pakai, dalam benakku banyak pertanyaan yang aku sendiri belum mampu menjawabnya.

Vina ini agak berbeda dengan kontestan lainnya, dia menjawab pertanyaan dari juri ini dengan menggunakan jari–jari yang indah. Ternyata bukan hanya lidah yang mempu berbicara namun dengan tangan pun kita bisa berbicara apa yang ingin kita sampaikan. Penerjemah pun menjelaskan maksud dari apa yang dia sampaikan lewat lantunan indah gerakan tangan. Dari terjemahan seorang penerjemah itu, jawaban dari Vina ini bisa dibilang paling unik dan bagus. Walaupun dengan keterbatasan yang ia miliki namun pengetahuan yang ia miliki sangat luas bahkan 1 level di atas yang normal lainnya. Kekagumanku semakin membuatku bertambah hebat. Aku semakin kuat untuk mendekatinya.

Akhirnya sesi pengumuman pun datang, yang paling ku nantikan. Tak terasa waktu 3 jam pun terlewatkan tanpa terasa. Bahkan aku kira ini hanya 1 jam berlangsung. Aku tersenyam dan menggelengkan kepalaku karena imajinasiku tadi tentang si Vina ini mulai memenuhi otakku. Decak kagum akan keindahan wajahnya dan kemampuannya yang berbeda membuatku semakin ingin dekat dengannya. Lamunanku pun mulai di bangunkan Thomas.

“hei kamu ngapain bengong terus tiba–tiba tertawa semacam itu? Hayo. Mikir jorok ya” tanya Thomas sambil memukul kepalaku.

“hahaha.” Aku tertawa keras, “enggakk kok anu” aku pun mulai terbata–bata dalam berbicara.

“woy hayo kamu suka ya, sama Vina ngaku sajalah? Aku kenal loh sama dia. Dari tadi ku perhatikan kamu memandang dia dengan tatapan yang aneh dan matamu berbinar-binar dan kamu senyum–senyum sendiri, waduh. Temanku jadi parah gini karena cinta? Hahaha.”

“sial kenapa kamu tahu? Ih gak seru, tapi boleh juga tuh, kenalin dong sama dia? Mau banget aku kenal dengan dia? Udah cantik, baik, unik lagi, bener-bener wanita yang hebat,” jawabku.

“Tuh kan benar apa yang aku bilang, dari mukamu saja sudah bisa ku tebak. Kebetulan orangtuaku sama dia itu udah sahabatan sejak lama jadi ya aku kenal dia sejak kecil. Dia juga sama kayak kita masih kelas 3 SMA tapi sekolahnya di Inklusi di Surakarta (sekolah inklusi: sekolah penggabungan antara anak normal dengan anak berkebutuhan khusus) orangtuanya punya produksi batik di Surakarta. Bahkan Vina ini sering dijadikan cover modelnya orangtuanya, karena wajah cantiknya itu”

Selesai acara dikenalkan Vina oleh Thomas. Aku pun mulai kebingungan dalam memahami bahasa Vina. Aku dibantu oleh seorang penerjemah bahasa -Tony namanya. Mas Tony ini adalah penerjemah bahasa isyarat -yang aku sering sebut bahasa tangan, ternyata bernama isyarat. Aku pun mulai memberanikan diri untuk meminta nomor handphone, dan akhirnya dengan bujuk rayuanku akhirnya Vina pun mau untuk memberikan nomornya.

Hari demi hari kita menjadi akrab lewat sms dan jejaring sosial. Dia adalah tipe orang yang mudah untuk bergaul meskipun dengan keterbatasannya dia selalu berusaha lebih. Semakin hari kita semakin dekat, benih-benih cinta pun mulai ku rasakan terhadapnya. Aku tidak meragukan lagi atas apa yang kurasakan cintaku terhadapnya. Yah bukankah cinta itu adalah hak setiap orang, terhadap siapapun tanpa terkecuali terhadap penyandang tunarungu sekalipun. Padahal aku di sekolah adalah sosok laki–laki yang supel mudah bergaul, putih dan pintar.

Ranking prestasiku selalu tidak pernah ke luar dari 5 besar. Jadi untuk di sekolah aku cukup mudah untuk bergaul dengan siapapun. Bahkan dengan lawan jenis. Tak jarang beberapa wanita menembakku, namun aku tolak. Bukan sombong, namun mereka semua adalah wanita yang biasa. Biasa ku temui dan mudah untuk ketebak jalan pemikiran mereka. Mereka wanita masa kini yang dekat dengan dunia shopping, yang intinya boros, dan hanya mementingkan penampilan dengan otak kosong.

Saat aku dekat dengan Vina meskipun hanya lewat dunia maya. Aku menemukan sesosok yang berbeda dengan lainnya. Dia adalah wanita yang cantik, baik dan unik. Dia walaupun terlahir dari keluarga yang kaya namun jarang aku temui lewat bahasanya dia suka dunia hedonisme yang gak jelas seperti wanita jaman sekarang. Bahkan dia sering aktif dalam dunia sosial. Bersama dengan teman–teman tunarungu lainnya dia membuat gerakan untuk kesejahteraan tunarungu Indonesia.

Hari demi hari berlalu seperti normalnya, kini aku yakin bahwa aku semakin mengaguminya, aku ingin lebih dekat dengannya. Padahal baru 3 minggu kita berkenalan. Namun, saat libur sekolah selama 3 minggu, aku memutuskan untuk liburan ke Surakarta. Aku ingin meluangkan waktuku saat libur untuk lebih dekat dengan Vina. Selama 3 minggu aku habiskan waktuku di Surakarta. Hari demi hari aku habiskan waktu bersamanya. Bahkan banyak teman–temannya yang mengira kita pacaran. Batinku terasa sangat senang sekali jika itu terjadi secara kenyataan. Tapi entah Vina apa berpikir sama dengan apa yang ku pikirkan. Apakah hatinya sama merasakan dengan apa yang aku rasakan?

Selama liburan itu aku mulai memahami dunia hening -dunia sunyi tanpa suara. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar bahasa isyarat. Belajar pelan–pelan dari mereka. Banyak sekali hal baru dan pengalaman baru yang dapat aku pelajari dari Vina dan teman–temannya yang tunarungu. Ternyata masih banyak sekali diskriminasi yang diperlakukan terhadap mereka. Namun dari banyaknya cobaan yang dihadapi Vina, Vina terus semangat belajar bahkan prestasinya bagus di sekolah umum. Meskipun kemampuannya berbeda namun tetap mampu berkompetensi dengan anak normal. Sungguh perjuangan yang sangat bagus. Di balik kehebatan Vina ada orangtua yang selalu mendukung Vina.

Tiga minggu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa liburan sekolah sudah habis. Aku kembali lagi dengan rutinitasku, sekolah. Kini aku mulai disibukkan dengan ujian sekolah dan ujian nasional dan ujian masuk ke perguruan tinggi. Mungkin komunikasi kita akan jarang. Kita pun sepakat untuk fokus pada tugas kita masing–masing untuk meraih impian masa depan kita. Bersama dengan Vina aku jadi mengahargai hidupku jauh kedepan. Semangatku pun lebih dari biasanya. Aku mulai mengikuti bimbingan belajar agar hasilnya memuaskan.

Hari demi hari aku lewati dengan belajar dan belajar. Hingga akhirnya dengan semangat juangku yang membara aku berhasil lulus dengan memuaskan. Aku masuk terbaik nomor 4 di sekolahku. Aku pun berhasil lolos seleksi jalur undangan -raport- di Universitas Indonesia. Aku berhasil masuk di fakultas kedokteran.

Selang seminggu dari pengumuman ujian sekolah. Aku mulai teringat lagi dengan Vina. Dalam benak berkecamuk berbagai macam pertanyaan. Sedang apa ya? Dia gimana keadaannya? Aku pun mulai memberanikan diri untuk memulai duluan sms. Selang 3 Bulan kita jarang komunikasi.

“Hai. Apa kabar?” tanyaku dalam sms.

“Baik, kamu? Ngapain saja kamu, baru ada kabar haha?” jawab Vina.

“Aku belajar untuk ujian. AKu lulus ujian sekolah dan berhasil masuk ke Universitas Indonesia fakultas Kedokteran. Kamu gimana ujianmu? Lanjut di mana?”

“Aku lulus. Tapi bingung mau lanjut di mana?”

“Kenapa harus bingung? Tinggal daftar, ikut ujian dan seleksi. Kamu kan pintar, pasti kamu mampu melewati semuanya.”

“Makasih atas pujiannya. Aku masih bingung, nanti kedepan aku harus belajar di mana? Tentunya akan banyak hal yang aku temui kedepan. Aku bingung menentukan tempat kuliah yang bisa menerima kekuranganku. Aku mulai bingung menetukan arahku kedepan, mungkin mimpi hanya sebatas impian saat orang–orang tertidur. Saat bangun, dunia ini sunyi dan lenyap.”

“Kok kamu putus asa. Ayo. ke mana semangat Vina yang dulu? Yang selalu punya sejuta mimpi dan optimis selalu ada cahaya di balik kegelapan.”

“Kamu belum paham duniaku, apa yang ku hadapi. Gak semua orang paham orang semacam aku, karena aku adalah kamu sedikit yang dipandang sebelah mata. Mungkin ada atau tidaknya aku tidak banyak yang tahu.”

“Aku paham kamu kok? Ujian hidup ini memang sangat berliku namun yang mampu bertahan adalah mereka yang hebat. Jadilah orang yang hebat yang mampu belari saat orang berjalan.”

“Aku dan kau berbeda. Kamu belum paham dan mungkin gak paham. Karena dunia kita berbeda. Duniamu banyak suara yang mampu kamu dengar, sedang aku hening dan sunyi. Dekat dengan kesepian.”

Sejak itu aku dan Vina sudah mulai jarang berkomunikasi. Aku sms dan chatting tidak dibalas. Aku semakin bingung dengan keadaannya. Hati ini semakin hari semakin berecamuk karena kehilangan jejaknya. Aku mulai memberanikan niat dan menguatkan tekad untuk mengirim surat. Kebetulan aku masih ingat jelas alamatnya.

Bintang selalu memberikan sinar di dalam kegelapan

Namun kehadirannya tidak pernah terlihat oleh manusia

Bahkan sering terlupakan oleh manusia

Namun

Bintang bagiku memiliki keunikan sendiri

Setiap malam aku selalu menikmati keindahannya bintang

Menatapnya tidak pernah memberikan ruang kebosanan untukku

Bagiku bintang ini adalah secercah sinar yang mampu menghidupkan kegelapan

Memberikan cahaya yang redup namun sangat berarti

Bintang itu sepertimu

Aku tidak pernah melihat kekuranganmu

Semua kelebihan dan perjuanganmu selalu mampu membuatku jatuh hati

Yah, jatuh hati terhadap bintang

Berbeda namun mampu memberikan cahaya kehidupan bagi malam yang gelap

Semoga cinta ini seperti malam dan bintang

Saling memberikan kekuatan untuk membuat malam terasa indah

Selang dua bulan kita tidak pernah komunikasi. Mungkin suratku itu nyasar entah ke mana? Atau dia memang tidak pernah jatuh hati padaku. Dan mungkin cinta ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Cinta tanpa harus memiliki. Mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk kita -pikirku dalam hati. Aku pun mulai disibukkan dengan ospek kampus dan kegiatan perkuliahan.

Satu bulan kemudian, aku pulang ke Jogja. Karena banyaknya aktivitas kuliah hingga aku mulai lupa dengan Vina. Aktivitasku yang padat mulai membuatku lupa akan cinta dalam hati ini. Saat aku pulang, aku disambut hangat oleh orangtuaku. Mereka semua membuatkanku makanan favoritku, selang makan orangtuaku mulai bercerita.

“Sayang, kamu punya teman yang namannya Vina?” tanya Mama.

“Iya, kok Mama tahu? darimana?” jawabku.

“Seminggu yang lalu ada pak pos yang mengantarkan surat untukmu, namun namanya Vina. Sebelumnya, Mama belum pernah dengar kamu cerita tentang Vina dan belum pernah berkirim surat. Apakah dia wanita spesialmu?”

“iya ma, ada. Wah, Mama itu cuma teman kok,” mukaku tersipu malu. “Ma di mana suratnya?”

“wah Doni, putra Mama mulai mengenal wanita. Belajar yang rajin ya, kejar impianmu ya. Jangan lupa. Suratnya di meja belajarmu.”

Aku pun mulai bergegas cepat–cepat makan untuk segera ke kamar. Aku mulai mempercepat langkahku. Dan waktu itu seperti berjalan terasa lambat sekali. Aku mulai membuka surat itu dengan tergesa–gesa.

For: Doni Anggara

Ada banyak cara Tuhan mengahdirkan cinta

Semuanya lewat kejadian yang tak terduga

Meski harus lewat kepedihan, pengorbanan bahkan penderitaan

Cinta mampu datang kapanpun dan kepada siapapun

Cinta ini tumbuh begitu murni dan indah

Lahir melalui ijin Tuhan

Dan menembus hati seorang manusia

Bahkan manusia seperti bintang

Yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang

Kehadirannya banyak yang tak mengerti

Memandang pun tidak

Namun itulah mukjizat Tuhan

Selalu menghadirkan pelangi setelah awan mendung dan hujan deras

Pelangi Tuhan justru lebih indah

Cinta ini tak terbatas

Menembus siapapun hati seorang manusia

Bahkan Cinta ini lebih indah karena mampu mendengar melalui kesunyian

Mampu berbiacara melalui isyarat Tuhan

Cerpen Karangan: Rohmah Ageng Mursita

Facebook: Rohmah Ageng Mursita

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »